Home » » HARAPANKU, HARAPAN SEMU?

HARAPANKU, HARAPAN SEMU?

Written By sukandar malik on Jumat, 08 Februari 2013 | Jumat, Februari 08, 2013


Saat aku terjaga, wajahnya tiba-tiba menyusup begitu saja dalam benakku, membuat hati ini bergetar tertusuk. Aku  mencoba menepisnya namun sepertinya sia-sia saja. Ia justru semakin dalam menggrogoti pikiranku dan membuatku berdarah. Di saat itu aku merasa bahwa ini sakit. Teramat sakit! Aku sakit karena harapanku. Harapan yang begitu konyol untuk dicerna logika bahkan oleh logikaku sendiri. Harapan yang tumbuh kurang lebih lima tahun yang lalu. Harapan yang terus bertahan selama itu dan terus saja bertahan hingga saat ini walau kutahu bahwa harapan itu sungguh semu dan tak akan pernah bisa kugapai.
        Sering sekali aku bertanya. Bertanya pada diriku sendiri tentunya karena hingga saat ini, aku sama sekali tak punya kekuatan untuk berbagi dengan siapapun. Dunia akan menertawakan dan mencibirku bila tahu tentangnya. Yahh...aku sering bertanya apa mungkin harapan ini benar-benar punyaku? Apa benar harapan ini anugerah untukku? Atau...ataukah mungkin harapan ini milik orang lain dan aku berusaha untuk menembus dasar logikaku sendiri untuk merampasnya? Tapi aku sungguh merasa harapan ini adalah miliku dan sama sekali tak berniat untuk merebutnya dari siapapun. Harapan ini muncul begitu saja. Begitu tulus ia bertunas di relungku dan aku sama sekali tak memintanya. Aku hanya membiarkannya tumbuh dan berkembang sesuai keinginannya meski kutahu bahwa harapan itu semakin lama semakin membuatku sakit dan mungkin akan membunuhku. Aku merinding takut.
           Pernah sekali aku berusaha keras untuk membunuh harapanku. Begitu luar biasa aku bergumul tapi ternyata sia-sia saja. Aku gagal. Harapanku begitu kuat bercokol. Ia sudah mengakar dan menjeratku. Saat itu, aku merasa bahwa ternyata, aku bukanlah siapa-siapa. Aku begitu lemah dan tak tahu lagi harus berbuat apa. Yang kutahu saat itu hanyalah bahwa tubuhku berpeluh. Yang kutahu saat itu hanyalah bahwa aku hanya bisa membiarkan air mataku menetes begitu saja. Yang kutahu saat itu adalah bahwa harapanku sendirilah yang menghukum dan menyiksaku. Dan yang kutahu saat itu adalah bahwa aku ternyata begitu rendah. Aku mencaci dan mengumpat ketidakberdayaanku.
 Waktu pun terus bergulir. Terus dan terus. Aku tak mau terpaku di tempatku. Akupun ikut berpacu mengejarnya. Berpacu bersama pula dengan harapanku. Ia tak mau meninggalkanku. Bahkan ia tak mau menyusul di belakangku. Ia mau berlari sejajar denganku dan menggandengku karena ia tak mau aku melepaskannya. Anehnya ia begitu kukuh bertahan. Ia sama sekali tak mau pergi meski di tengah jalan banyak sekali harapan-harapan lain yang lebih indah menghampiri dan ikut mendekapku. Harapan-harapan lain yang begitu berani dan secara terang-terangan memeluk dan berbisik di telingaku bahwa ia sangat menginginkanku. Harapan yang berusaha untuk mendepaknya dariku. Aku memang terbuai dan sering sekali melebur bersama harapan baruku. Tetapi tetap sama saja. Memang aku terbuai dengan harapan baru namun aku sepertinya merasa hambar dengannya. Tak ada ikatan dan sekali lagi tersa begitu tawar. Teramat tawar malah. Harapan baru itu hanyalah pelarianku semata untuk menghindar. Di saat aku merasa begitu biasa-biasa saja dengan harapan baruku, ia dengan angkuh mencibir ke arahku. Dengan semburat senyum anehnya ia menghampiriku dan lantas  berbisik untukuku “ kau takan pernah terlepas dariku. Kau miliku dan itu untuk selamanya” ia merasa begitu puas.

       “ Hai! Kenapa kau selalu mengikutiku? Kenapa kau menggenggamku begitu kuat? Kapan kau akan melepaskanku? Aku ingin bebas. Bebas dari Kau!” Aku tak berbisik tapi membentaknya.
          Namun tetap Sama saja. Jangankan takut. Ia justru dengan senyum dingin menatapku dalam dan kembali ia berbisik untuku. “ lihat wajahmu. Kau begitu munafik. Kau menginginkanku. Sangat menginginkanku. Kenapa kau terus-terus membantah suara hatimu?”
         “ Iya. Kau benar. Sangat benar. Aku memang menginginkanmu.Tetapi kau juga pasti sangat tahu bahwa aku sangat tidak mungkin bisa hidup denganmu. Kau terlalu absurd tuk kupahami dengan logikaku. Kau teramat semu hingga aku tak berdaya untuk meraihmu. Bisakah kau mengrti? Tolong aku... karena bagiku, kau sudah menjadi luka di hatiku.” Aku memelas di hadapannya.
           “Apa kau sadar bahwa kau sendiri yang menciptakan luka untuk dirimu sendiri?” Masih dengan dingin, ia kembali berbisik lirih.
          “Kau salah! Bagaimana mungkin aku menyakiti diriku sendiri? Aku tak pernah memintamu hadir untuku. Kau datang seperti angin dan menyusup menembus relungku. Kau yang memperdayaiku”.

          Ia menggeleng. Masih dengan wajah dingin. kali ini ia merenggangkan genggamannya dan dengan perlahan melepaskannya. Ia berjalan mendahuluiku. Tiba- tiba saja, rasa takut merongrongku ketika semakin lama langkahnya semakin cepat..cepat...dan semakin cepat ia melangkah menjauh meninggalkanku. Aku terperangah heran. Kenapa harus takut? Bukankah ini yang aku inginkan? Tapi perasaan gila apa lagi ini? Ada apa denganku? Kenapa aku justru takut ia kan meninggalkanku? Kenapa pula aku harus menggigil seperti ini dan tak mampu menahan kepergiannya? Persetan! Untuk apa menahannya? Aaarrrggghhh!!!!
            Gila! Ia semakin cepat berlalu meninggalkanku tanpa menoleh sedikitpun. Aku terpaku di tempat. Tak bisa bergerak sama sekali. Aku terlihat begitu bodoh. Lebih bodoh lagi ketika perasaan anaeh gantian menyusupiku. Aku merasa sangat sendirian. Aku tiba-tiba merasa begitu sedih dan...
        “  Hey. Tunggu!” Aku tak percaya. Aku berusaha menahannya namun ia semakin cepat berlalu.
         “Tunggu!!!” Kembali aku berteriak
          “Kau belum jawab pertanyaanku. Tunggu!!!” Ulangku.
 Ia terus berlalu.

          “Kau dengar tidak? Tunggu!!! Kenapa kau pergi begitu saja?” Kututup mulutku dengan telapak tanganku. Ada apa denganku? Kenapa aku harus mencegah kepergiannya setelah sekian lama aku berusaha untuk mengusirnya?
         “ Hai tunggu. Jangan kau tinggalkanku. Tungguu!!!!
 Dengan tertatih aku berusaha mengejarnya dan “ bruuukkk!! Aku terjerembab. Teramat sakit dan kuangkat wajah ke arahnya namun ia justru berlari cepat tanpa memperdulikanku. Semakin jauh..jauh dan jauh ia meninggalkanku. Aku hanya bisa tertunduk ketika bayangannya kini benar-benar sudah hilang ditelan kabut.
          Dengan segenap kesedihanku aku kembali mengayuh langkahku yang terasa berat. Aku lanjut memburu waktu. Dan di pagi ini tepat di tanggal 6 Februari 2010, di saat aku hampir dekat dengan waktuku, aku tercekat kaget. Di depan sana ada bayangan yang seolah sedang menungguku. Bayangan itu bahkan bangun dan melangkah cepat menyongsongku.  Semakin dekat dan semakin jelas dan berrrr!!! Senyum itu, yahh aku sangat mengenalnya. Semburat dingin dan aneh yang selama ini menyiksaku. Secepat dahulu ketika ia meninggalkanku, kali ini ia mendekap dan kembali menyusupi relungku.
          Aku terjaga dan tanpa kusadari aku terduduk dan menangis. Apa mungkin aku bisa meraihnya?  Akhh... harapanku terlalu konyol. Terlalu semu. Kembali luka lamaku memburat.
  Persembahan khusus dariku untuk dia yang telah lama pergi dan pagi ini kembali ia menghampiriku dengan sejuta pertanyaan tentangnya.

Karya: Simon Paji
Kupang, 6 Februari 2010 FKIP Undana


Share this article :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ProsaNews - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger